Review The Fifth to Die
Author : JD Barker
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Jumlah halaman : 740
Jenis Cover : Soft Cover
No ISBN : 9786232160927
Original from : Amerika Serikat
Terjemahan : Indonesia
Sinopsis
Mayat gadis ditemukan di dalam laguna yang membeku, dan belakangan ia diketahui mengenakan pakaian gadis lain yang juga menghilang. Sam Porter, detektif gaek yang berasal dari Chicago Metro kembali beraksi bersama timnya, Nash, Clair Norton, dan Klozowski untuk memburu seorang pembunuh berantai yang dijuluki sebagai P4M [Pembunuh Empat Monyet] atau 4MK [Fourth Monkey Killer].
Ini adalah seri kedua dari Detektif Porter, seri sebelumnya berjudul The Fourth Monkey, seorang pembunuh yang diketahui bernama Anson Bishop dan membunuh dengan keji semua korbannya dengan cara memotong bagian tubuh tertentu seperti kuping, lidah, atau mata.
Di dua hari pertama, saya bisa menyelesaikan sebanyak 400 dari total 740 halaman, sebuah pencapaian baru sih, setelah beberapa tahun sebelumnya dalam satu hari pernah mampu sampai 300 halaman saat membaca buku The Cairo Affair-nya Olen Steinhauer. Karena saya tipikal pembaca kura-kura, belum lagi mata minus dan silindris yang kalau sudah kelewat lelah serasa in the sky.
Anson Bishop yang jadi momok menakutkan di buku pertama [The Fourth Monkey] semakin menghantui dalam buku ini karena sosoknya sering disebut-sebut bak legenda dan yang lebih berbahanya lagi, ada pembunuh lain selain Bishop, ditambah bumbu kalau kasus ini juga jadi lahan rebutan dengan FBI.
Agen khusus Frank Poole menjadi tokoh sentral dari FBI yang harus adu greget dengan tim Chicago PD. Sosok Sam Porter sendiri makin terlihat sebagai pimpinan tim satgas P4M ini, selain masalah mentalnya yang muram karena kematian istrinya, Heather karena perampokan, ia juga tipikal polisi gaek, menggunakan insting, manual, berpengalaman, dan terkadang let it flow alias berjalan saja kemana bukti itu akan mengarah nantinya (Lead by evidence).
Kadar adegan Gore / Violent yang menjurus ke arah disgusting masih menjadi suguhan yang disajikan oleh JD Barker, dengan beberapa setting tempat yang kotor, horor, muram, dan perkotaan sedikit mengingatkan gaya eksekusi ala film Se7en.
Okey, di luar itu gak semuanya harus penuh dengan ketegangan sih, tim Chicago Metro ini juga bisa dibilang kompak, penuh guyon, dan gak ada drama-drama cekcok antar teman satu tim, mereka juga suka lempar-lemparan pulpen, saling menyemangati, dan akan berebutan saat disajikan donut satu pak isi satu lusin.
Sekuel atau seri ke-2 yang semakin menusuk dan tajam serta memiliki bab yang pendek dan selalu menggantung (Cliffhanger) membuat kita susah untuk meletakannya (Rada gak mungkin atau keasyikannya akan berkurang kalau di baca hari di mana esok harinya harus kerja.)
“Kau tidak bisa menjadi Tuhan tanpa mengenal iblis.”
JD Barker menggunakan bahasa deskripsi yang mudah dipahami, dijelaskan di awal tanpa bertele-tele (menggunakan metode Tell), sehingga saat sudah tenggelam dalam cerita kita tidak harus diganggu lagi dengan pelemparan deskripsi tokoh yang dilempar setengah-setengah.
Kebencian dan kedengkian Anson Bishop ini semakin terkuak asal muasalnya berdasarkan kisah dalam buku hariannya yang dibaca oleh Porter dan Agen Poole, dan tentu saja pada akhirnya saya paham bahwa kenapa seri ke tiga nya akan berjudul The Sixth Wicked Child (Enam anak yang jahat- akan terbit Agustus 2019 ini dan tentu saja gak tahu kapan di translate ke bahasa Indonesia). Karena ternyata Bishop adalah…
Dan ohh yaa, satu lagi soal Plot Twist-nya menurut saya bener-bener gilakkk.
#Resensi Novel The Fifth To Die, #Sinopsis
Author : JD Barker
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Jumlah halaman : 740
Jenis Cover : Soft Cover
No ISBN : 9786232160927
Original from : Amerika Serikat
Terjemahan : Indonesia
Sinopsis
Mayat gadis ditemukan di dalam laguna yang membeku, dan belakangan ia diketahui mengenakan pakaian gadis lain yang juga menghilang. Sam Porter, detektif gaek yang berasal dari Chicago Metro kembali beraksi bersama timnya, Nash, Clair Norton, dan Klozowski untuk memburu seorang pembunuh berantai yang dijuluki sebagai P4M [Pembunuh Empat Monyet] atau 4MK [Fourth Monkey Killer].
Ini adalah seri kedua dari Detektif Porter, seri sebelumnya berjudul The Fourth Monkey, seorang pembunuh yang diketahui bernama Anson Bishop dan membunuh dengan keji semua korbannya dengan cara memotong bagian tubuh tertentu seperti kuping, lidah, atau mata.
Di dua hari pertama, saya bisa menyelesaikan sebanyak 400 dari total 740 halaman, sebuah pencapaian baru sih, setelah beberapa tahun sebelumnya dalam satu hari pernah mampu sampai 300 halaman saat membaca buku The Cairo Affair-nya Olen Steinhauer. Karena saya tipikal pembaca kura-kura, belum lagi mata minus dan silindris yang kalau sudah kelewat lelah serasa in the sky.
Anson Bishop yang jadi momok menakutkan di buku pertama [The Fourth Monkey] semakin menghantui dalam buku ini karena sosoknya sering disebut-sebut bak legenda dan yang lebih berbahanya lagi, ada pembunuh lain selain Bishop, ditambah bumbu kalau kasus ini juga jadi lahan rebutan dengan FBI.
Agen khusus Frank Poole menjadi tokoh sentral dari FBI yang harus adu greget dengan tim Chicago PD. Sosok Sam Porter sendiri makin terlihat sebagai pimpinan tim satgas P4M ini, selain masalah mentalnya yang muram karena kematian istrinya, Heather karena perampokan, ia juga tipikal polisi gaek, menggunakan insting, manual, berpengalaman, dan terkadang let it flow alias berjalan saja kemana bukti itu akan mengarah nantinya (Lead by evidence).
Kadar adegan Gore / Violent yang menjurus ke arah disgusting masih menjadi suguhan yang disajikan oleh JD Barker, dengan beberapa setting tempat yang kotor, horor, muram, dan perkotaan sedikit mengingatkan gaya eksekusi ala film Se7en.
Okey, di luar itu gak semuanya harus penuh dengan ketegangan sih, tim Chicago Metro ini juga bisa dibilang kompak, penuh guyon, dan gak ada drama-drama cekcok antar teman satu tim, mereka juga suka lempar-lemparan pulpen, saling menyemangati, dan akan berebutan saat disajikan donut satu pak isi satu lusin.
Sekuel atau seri ke-2 yang semakin menusuk dan tajam serta memiliki bab yang pendek dan selalu menggantung (Cliffhanger) membuat kita susah untuk meletakannya (Rada gak mungkin atau keasyikannya akan berkurang kalau di baca hari di mana esok harinya harus kerja.)
“Kau tidak bisa menjadi Tuhan tanpa mengenal iblis.”
JD Barker menggunakan bahasa deskripsi yang mudah dipahami, dijelaskan di awal tanpa bertele-tele (menggunakan metode Tell), sehingga saat sudah tenggelam dalam cerita kita tidak harus diganggu lagi dengan pelemparan deskripsi tokoh yang dilempar setengah-setengah.
Kebencian dan kedengkian Anson Bishop ini semakin terkuak asal muasalnya berdasarkan kisah dalam buku hariannya yang dibaca oleh Porter dan Agen Poole, dan tentu saja pada akhirnya saya paham bahwa kenapa seri ke tiga nya akan berjudul The Sixth Wicked Child (Enam anak yang jahat- akan terbit Agustus 2019 ini dan tentu saja gak tahu kapan di translate ke bahasa Indonesia). Karena ternyata Bishop adalah…
Dan ohh yaa, satu lagi soal Plot Twist-nya menurut saya bener-bener gilakkk.
#Resensi Novel The Fifth To Die, #Sinopsis

Komentar
Posting Komentar